by : zulfikarsputra.blogspot.com
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur ALLAH SWT atas segala limpahan rahmat, inayah, taufik dan hidayahnya
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan tugas ini dalam bentuk maupun
isinya yang sangat sederhana. Semoga tugas ini dapat dipergunakan sebagai salah
satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca dalam Makalah “Sterilisasi”
Harapan kami semoga tugas ini
membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami
dapat memperbaiki bentuk maupun isi tugas ini sehingga kedepannya dapat lebih
baik.
Makalah ini kami akui masih banyak
kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh karena itu
kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan tugas kami.
Banyuwangi,
20 Juni 2014
Penyusun,
Daftar Isi
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang……………………………………………………………. 3
1.2
Rumusan
Masalah……………………………………………………......... 5
1.3 Tujuan……………………………………………………………………… 5
1.3.1 Tujuan Umum …………………………………………………….. 5
1.3.2 Tujuan Khusus…………………………………………………….. 5
BAB 2 ISI
2.1 Pengertiaan
Sterilisasi………….…………….……………………………. 6
2.2
Prinsip kerja
Autoklaf………………………….………………………….. 6
2.3 Metode
Sterilisasi…………………………………………………………. 7
2.3.1 Sterilisasi Secara
Fisik ……………………………………………... 7
2.3.2 Sterilisasi Secara
Radiasi……………………………………………. 9
2.3.3 Sterilisasi Secara
Kimia …………………………………………….. 9
2.3.4 Sterilisasi Secara
Mekanik…………………………………………… 11
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan……………………………………………………………….. 12
3.2 Saran……………………………………………………………………… 12
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………….. 13
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Banyak penyakit yang
menganggu kelangsungan hidup masyarakat banyak. Penyakit-penyakit ini bukan
hanya muncul dikarenakan keteledoran daripada si pengidap itu sendiri.
Melainkan juga dari lingkungan luar yang ada di sekitarnya. Biasanya para
pasien yang ada di rumah sakit paling gampang tertular dengan berbagai macam
penyakit yang dapat membahayakan kehidupannya sendiri.
Tahapan penting yang
mutlak harus dilakukan selama bekerja di ruang praktikum mikrobiologi adalah sterilisasi.
Bahan atau peralatan yang digunakan harus dalam keadaan steril. Sterilisasi
adalah proses penghilangan semua jenis organisme hidup, dalam hal ini adalah
mikroorganisme yang terdapat dalam suatu benda. Proses ini melibatkan
aplikasi biocidal agent atau proses fisik dengan
tujuan untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme. Setiap proses baik
fisika, kimia dan mekanik yang membunuh semua bentuk kehidupan terutama
mikroorganisme disebut sterilisasi. Adanya pertumbuhan mikroorganisme menunjukkan
bahwa pertumbuhan bakteri masih berlangsung dan tidak sempurnanya sterilisasi.
Sterilisasi didesain
untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme. Target suatu metode
inaktivasi tergantung dari metode dan tipe mikroorganisme yaitu tergantung dari
asam nukleat, protein atau membrane mikroorganisme tersebut. Agen kimia untuk
sterilisasi disebut sterilant (Pratiwi,2006).
Sterilisasi banyak dilakukan di rumah sakit melalui proses fisik, kimia dan
mekanik. Setiap proses (baik fisika, kimia maupun mekanik) yang membunuh
semua bentuk kehidupan terutama mikrooranisme disebut dengan sterilisasi.
Adanya pertumbuhan mikroorganisme menunjukkan bahwa pertumbuhan bakteri masih
berlangsung dan tidak sempurnanya proses sterilisasi. Jika sterilisasi berlangsung
sempurna, maka spora bakteri yang merupakan bentuk paling resisten dari
kehidupan mikroba, akan diluluhkan (Cappuccino, 1983).
Pembiakan mikroba
dalam laboratorium memerlukan medium yang berisi zat hara serta lingkungan
pertumbuhan yang sesuai dengan mikroorganisme. Zat hara digunakan oleh
mikroorganisme untuk pertumbuhan, sintesis sel, keperluan energi dalam
metabolisme, dan pergerakan. Lazimnya, medium biakan berisi air, sumber
energi, zat hara sebagai sumber karbon, nitrogen, sulfur, fosfat, oksigen, hidrogen,
serta unsur-unsur lainnya. Dalam bahan dasar medium dapat pula ditambahkan
faktor pertumbuhan berupa asam amino, vitamin, atau nukleotida (Lim,
1998).
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian sterilisasi ?
2.
Bagaimana prinsip kerja Autoklaf?
3.
Bagaimana metode sterilisasi?
4.
Apa saja macam-macam sterilisasi?
1.3
Tujuan
Tujuan dari pembuatan
makalah ini adalah ;
1.3.1. Tujuan Umum
1.Agar pembaca
mengetahui apa pengertian dari sterilisasi
2.Agar pembaca
mengetahui bagaimana prinsip kerja autoklaf yaitu alat yang digunakan untuk
mensterilkan alat atau bahan
1.3.2
Tujuan Khusus
1.
Agar pembaca mengetahui apa saja metode dalam
sterilisasi
2.
Agar pembaca mengetahui apa saja macam-macam
sterilisasi
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sterilisasi
Steralisasi adalah
suatu cara untuk membebaskan suatu benda dari semua, baik bentuk vegetatif
maupun bentuk spora. Proses sterilisasi dipergunakan pada bidang mikrobiologi
untuk mencegah pencernaan organisme luar, pada bidang bedah untuk
mempertahankan keadaan aseptis, pada pembuatan makanan dan obat-obatan untuk
menjamin keamanan terhadap pencemaran oleh mikroorganisme dan di dalam
bidang-bidang lain pun sterilisasi ini juga penting. Steralisasi juga dikatakan
sebagai tindakan untuk membunuh kuman patogen atau kuman apatogen beserta spora
yang terdapat pada alat perawatan atau kedokteran dengan cara merebus, stoom,
menggunakan panas tinggi, atau bahkan kimia. Jenis sterilisasi antara lain
sterilisasi cepat, sterilisasi panas kering, steralisasi gas (Formalin H2, O2), dan radiasi ionnisasi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam steralisasi di antaranya:
Ø Sterilisator (alat
untuk mensteril) harus siap pakai, bersih, dan masih berfungsi
Ø Peralatan yang akan di
sterilisasi harus dibungkus dan diberi label yang jelas dengan menyebutkan
jenis peralatan, jumlah dan tanggal pelaksanaan sterilisasi
Ø Penataan alat harus
berprinsip bahwa semua bagian dapat steril
Ø Tidak boleh menambah
peralatan dalam sterilisator sebelum waktu mensteril selesai
Ø Memindahklan alat
steril ke dalam tempatnya dengan korentang steril
Ø Saat mendinginkan alat
steril tidak boleh membuka pembungkusnya, bila terbuka harus dilakukan
sterilisasi ulang.
2.2 Prinsip Kerja Autoklaf
Autoklaf adalah alat
untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang menggunakan tekanan 15
psi (1,02 atm) dan suhu 1210C. Suhu dan tekanan
tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan
kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas.
Biasanya untuk mesterilkan media digunakan suhu 1210C dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa)
selama 15 menit. Alasan digunakan suhu 1210C atau 249,8 0F adalah karena air
mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi
pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 1000C, sedangkan untuk
autoklaf yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka
air akan mendidih pada suhu 1210C. Ingat kejadian ini
hanya berlaku untuk sea level, jika di laboratorium terletak pada
ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya
autoklaf diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan
menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 1210C untuk mendidihkan
air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 1210C dan tekanan 15 psi
selama 15 menit. Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf
lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara
yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap
air, katup uap atau udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf
naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai., maka proses
sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur.
Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan
dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka
sebelum tekanan mencapai 0 psi.
Untuk mendeteksi bahwa
autoklaf bekerja dengan sempurna dapat digunakan mikroba penguji yang
bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus,
lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip.
Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan
disterilkan. Setelah proses sterilisai lalu ditumbuhkan pada media. Jika media
tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja dengan baik. Beberapa
media atau bahan yang tidak disterilkan dengan autoklaf adalah :
Ø Bahan tidak tahan
panas seperti serum, vitamin, antibiotik, dan enzim
Ø Pelarut organik,
seperti fenol
Ø Buffer dengan
kandungan detergen
Ø Untuk mencegah
terjadinya presipitasi, pencoklatan (media menjadi coklat) dan hancurnya
substrat dapat dilakukan pencegahan sebagai berikut :
Ø Glukosa disterilkan
terpisah dengan asam amino (peptone) atau senyawa fosfat
Ø Senyawa fosfat
disterilkan terpisah dengan asam amino (peptone) atau senyawa garam
mineral lain
Ø Senyawa garam mineral
disterilkan terpisah dengan agar
Ø Media yang memiliki pH
> 7,5 jangan disterilkan dengan autoklaf
Ø Jangan mensterilisasi
larutan agar dengan pH < 6,0
Erlenmeyer hanya boleh diisi media maksimum ¾
dari total volumenya, sisa ruang dibirkan kosong. Jika mensterilkan media 1
liter yang ditampung pada erlenmeyer 2 liter maka sterilisasi diatur dengan
waktu 30 menit.
2.3 Metode Sterilisasi
2.3.1.
Sterilisasi secara
Fisik
Sterilisasi secara
fisik dipakai bila selama sterilisasi dengan bahan kimia tidak akan berubah
akibat temperatur tinggi dan tekanan tinggi. Cara membunuh mikroorganisme
tersebut adalah dengan panas. Berikut penjelasan mengenai cara membunuh
mikroorganisme :
·
Pemanasan kering
Prinsipnya adalah
protein mikroba pertama-tama akan mengalami dehidrasi sampai kering dan
selanjutnya teroksidasi oleh oksigen dari udara sehingga menyebabkan mikrobanya
mati. Digunakan pada benda atau bahan yang tidak mudah menjadi rusak,
tidak menyala, tidak hangus atau tidak menguap pada suhu tinggi. Umumnya
digunakan untuk senyawa yang tidak efektif untuk disterilkan dengan uap air,
seperti minyak lemak, minyak mineral, gliserin (berbagai jenis minyak),
petrolatum jelly, lilin, wax, dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air.
Metode ini efektif untuk mensterilkan alat-alat gelas dan bedah. Contohnya alat
ukur dan penutup karet atau plastik. Selain itu, bahan atau alat harus
dibungkus, disumbat atau ditaruh dalam wadah tertututp untuk mencegah
kontaminasi setelah dikeluarkan dari oven.
·Pemanasan basah
Prinsipnya adalah
dengan cara mengkoagulasi atau denaturasi protein penyusun tubuh mikroba
sehingga dapat membunuh mikroba. Sterilisasi uap dilakukan menggunakan
autoklaf dengan prinsipnya memakai uap air dalam tekanan sebagai pensterilnya.
Temperatur sterilisasi biasanya 121℃, tekanan yang biasa
digunakan antara 15-17,5 psi (pound per square inci) atau 1 atm. Lamanya
sterilisasi tergantung dari volume dan jenis. Alat-alat dan air disterilkan
selama 1 jam, tetapi media antara 20-40 menit tergantung dari volume bahan yang
disterilkan. Sterilisasi media yang terlalu lama akan menyebabkan :
- Penguraian gula
- Degradasi vitamin dan asam-asam amino
- Inaktifasi sitokinin zeatin riboside
- Perubahan pH yang berakibatkan depolimerisasi agar
Bila ada kelembapan, bakteri akan terkoagulasi
dan dirusak pada temperatur yang lebih rendah dibandingkan jika tidak ada
kelembapan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah terjadinya
denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial dari organisme tersebut.
Metode sterilisasi uap
umumnya digunakan untuk sterilisasi sediaan farmasi dan bahan-bahan lain yang
tahan terhadap temperatur yang dipergunakan dan tahan terhadap penembusan uap
air, larutan dengan pembawa air, alat-alat gelas, pembalut untuk bedah, penutup
karet dan plastic serta media untuk pekerjaan mikrobiologi. Uap jenuh pada suhu
121oC mampu membunuh secara cepat semua bentuk vegetatif
mikroorganisme dalam 1 atau 2 menit. Uap jenuh ini dapat menghancurkan
spora bakteri yang tahan pemanasan.
·
Pemanasan dengan
Bakterisida
Digunakan untuk
sterilisasi larutan berair atau suspensi obat yang tidak stabil dalam
autoklaf. Tidak digunakan untuk larutan obat injeksi intravena dosis
tunggal lebih dari 15 ml, injeksi intratekal, atau intrasisternal. Larutan yang
ditambahkan bakterisida dipanaskan dalam wadah bersegel pada suhu 100 oC selama 10 menit di
dalam pensteril uap atau penangas air. Bakterisida yang digunakan 0,5% fenol,
0,5% klorobutanol, 0,002 % fenil merkuri nitrat dan 0,2% klorokresol.
·
Air mendidih
Digunakan untuk sterilisasi alat bedah seperti
jarum spoit. Hanya dilakukan dalam keadaan darurat. Dapat membunuh bentuk
vegetatif mikroorganisme tetapi tidak sporanya.
·Pemijaran
Dengan cara membakar alat pada api secara
langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dan sebagainya.
2.3.2
Sterilisasi dengan
radiasi
Prinsipnya adalah
radiasi menembus dinding sel dengan langsung mengenai DNA dari inti sel
sehingga mikroba mengalami mutasi. Digunakan untuk sterilisasi bahan atau
produk yang peka terhadap panas (termolabil). Ada dua macam radiasi yang
digunakan yakni gelombang elektromagnetik (sinar x, sinar γ) dan arus partikel
kecil (sinar α dan β). Sterilisasi dengan radiasi digunakan untuk bahan atau
produk dan alat-alat medis yang peka terhadap panas (termolabil).
·
Tyndalisasi
Konsep kerja metode
ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air dan tidak tahan tekanan
atau suhu tinggi lebih tepat disterilkan dengan metode ini. Misalnya susu yang
disterilkan dengan suhu tinggi akan mengalami koagulasi dan bahan yang berpati
disterilkan pada suhu bertekanan pada kondisi pH asam akan terhidrolisis.
Tyndalisai merupakan proses memanaskan medium atau larutan menggunakan uap
selama 1 jam setiap hari selama 3 hari berturut- turut
·
Pasteurisasi
Proses pemanasan pada
suhu dan waktu tertentu (650C selama 30’ atau 720C selama 15’ untuk
membunuh pathogen yang berbahaya bagi manusia.
2.3.3
Sterilisasi secara Kimia
Sterilisasi secara
kimia dapat memakai antiseptik kimia. Pemilihan antiseptik terutama tergantung
pada kebutuhan daripada tujuan tertentu serta efek yang dikehendaki. Perlu juga
diperhatikan bahwa beberapa senyawa bersifat iritatif, dam kepekaan kulit
sangat bervariasi. Zat-zat kimia yang dapat di pakai untuk sterilisasi antara
lain halogen (senyawa klorin, yodium), alkohol, fenol, hydrogen peroksida, zat
warna ungu Kristal, derivate akridin, rosalin, deterjen, logam-logam berat,
aldehida, ETO, uap formaldehid ataupun beta-propilakton (Volk, 1993)
Cara sterilisasi
dengan bahan kimia. Beberapa istilah yang perlu difahami:
·
Desinfektan adalah
suatu bahan kimia yang dapat membunuh sel-sel vegetatif dan jasad renik.
Biasanya digunakan untuk obyek yang tidak hidup, karena akan merusak jaringan.
Prosesnya disebut desinfeksi.
·
Antiseptik adalah
suatu bahan atau zat yang dapat mencegah, melawan maupun membunuh pertumbuhan
dan kegiatan jasat renik. Biasanya digunakan untuk tubuh. Prosesnya disebut
antiseptis.
·
Biosidal adalah suatu
zat yang aksinya dipakai unhtuk membunuh mikroorganisme, misal : bakterisid,
virosid, sporosid.
·
Biostatik adalah zat
yang aksinya untuk mencegah/menghambat pertumbuhan organisme, misal :
bakteriostatik, fungistatik.
Ada beberapa zat yang
bersifat anti mikroba.
1. Fenol dan derivatnya
Zat kimia ini bekerja
dengan cara mempresipitasikan protein secara aktif atau merusak selaput sel
dengan penurunan tegangan permukaan. Fenol cepat bekerja sebagai desinfektan
maupun antiseptik tergantung konsentrasinya. Daya antimikroba fenol akan
berkurang pada suasana alkali, suhu rendah, dan adanya sabun.
2. Alkohol
Alkohol beraksi dengan
mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi dan melarutkan lemak sehingga
membran sel rusak dan enzim-enzim akan diinaktifkan oleh alkohol. Etil alkohol
(etanol) 50-70% mempunyai sifat bakterisid untuk bentuk vegetatif. Metanol daya
bakterisidnya kurang dibandingkan etanol, dan beracun terhadap mata.
3. Halogen beserta
gugusannya
Halogen beserta
gugusannya ini mematikan mikroorganisme dengan cara mengoksidadi protein
sehingga merusak membran dan menginaktifkan enzim-enzim. Misalnya :
·
Yodium dipakai untuk
mendesinfeksi kulit sebelum dilakukan pembedahan
·
Hipoklorit digunakan
untuk sanitasi alat-alat rumah tangga. Yang umum dipakai adalah kalsium
dipoklorit dan sodium hipoklorit.
4. Logam berat dan
gugusannya
Logam berat dapat
memprestasikan enzim-enzim atau protein esensial lain dalam sel sehingga dapat
berfungsi sebagai anti mikroba.
Contoh :
·
Merkurokrom,
merthiolat sebagai antiseptik.
·
Perak nitrat sebagai
tetes mata guna mencegah penyakit mata pada bayi (Neonatol gonococcal
ophthalmitic).
5. Deterjen
Dengan gugus hipofilik
dan hidrofilik, deterjen akan merusak membran sitoplasma.
6. Aldehid
Aldehid mendesinfeksi
dengan cara mendenaturasi protein. Contoh : formalin (formaldehid)
7. Gas sterilisator
Digunakan untuk
bahan/alat yang tidak dapat disterilkan dengan panas tinggi atau dengan zat
kimia cair. Pada proses ini material disterilkan dengan gas pada suhu kamar.
Gas yang dipakai adalah ethilen oksida.
Kebaikannya : ethilen
oksida mempunyai daya sterilisasi yang besar dan daya penetrasinya besar
Kejelekannya : ethilen
oksida bersifat toksis dan mudah meledak.
2.3.4
Sterilisasi secara
Mekanik
Sterilisasi secara
mekanik dapat dilakukan dengan penyaringan. Penyaringan dengan mengalirkan gas
atau cairan melalui suatu bahan penyaring.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sterilisasi adalah
suatu proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan
spora-sporanya. Ada 5 metode umum sterilisasi, yaitu : sterilisasi uap (panas
lembab), sterilisasi panas kering, sterilisasi dengan penyaringan (filtrasi),
sterilisasi gas, sterilisasi dengan radiasi.
3.2 Saran
Saya menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu saya sebagai penulis
sangat mengharapkan kritik dan saran dari seluruh pihak demi sempurnanya
makalah ini. Saran yang dapat penulis berikan adalah agar mahasiswa dapat
memahami tentang proses sterilisasi serta macam-macam sterilisasi. Pada makalah
berikutnya menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA